Senja Dikala Itu

Senja acap kali memikat hati, pada siapa pun yang berpapasan dengannya. Kita dibuatnya tercenung dan berimajinasi, tentang sastra, cinta, dan bahkan puisi. Ya, memang pada dasarnya, manusia senang melihat sesuatu yang indah-sebuah estetika yang merupakan hasil kesepakatan bersama. Soal keindahan, aku teringat ketika remaja. Seperti kebanyakan remaja lainnya, aku berpikir, alangkah menyenangkan memiliki kekasih hati berparas indah. Bisa kupamerkan ke sana-sini, sekaligus menjadi status sosial bergengsi. seiring bertambahnya usia, makin aku menyadari bahwa fisik yang rupawan akan selalu kalah dengan perbincangan yang menyenangkan. Mata hanya mampu menatap, tapi kata-kata akan menetap. Dan untuk tiba pada fase tersebut. Aku tentu harus merasakan jatuh cinta pada sang senja terlebih dahulu. Bukankah kita semua begitu?

Kebanyakan, kisah cinta anak manusia diawali dengan sengat sederhana. Dari pertemuan yang (konon katanya) mengandung unsur ketidaksengajaan, dua manusia dapat saling sapa, saling tanya, lalu saling mencari tahu satu sama lainnya. Benih asmara pun tumbuh. Jika benih tersebut di hati keduanya, itu pertanda baik. Namun, jika hanya tumbuh di hati salah seorang saja, ini menjadi suatu hal kelabu dan sulit di lekas laksanakan.

Begini. Dalam hidupmu, akan selalu ada satu senja yang kau tunggui senja tersebut berubah-ubah warna, kian lama kian indah. Kau relakan waktumu habis hanya untuk mencintainya. Hingga tanpa kau sadari, Senja lenyap, menggiringmu pada gelap. Dan kau kehilangan arah, sendirian, ketakutan. Bisa dibilang, ini adalah fase kritis kaum protleatariat dalam mengais berjuta melow kalsik. Kemudian, diantara gelap. kau temukan jutaan gemintang, juga rembulan yang sinarnya menuntunmu untuk kembali melangkah. Hingga pada akhirnya kau temukan pagi. Pagi memang tak seindah Senja. Ia tidak hangat, tidak romantis, apalagi syahdu. Tapi, ketahuilah, pagi tidak pernah gagal membawamu menuju cahaya. Bukankah seperti itu? Jadi, sudahkah kau temukan Pagi-mu?

Dibalik senyapnya keheningan malam
Averus Sina

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maka Ikhlaskan Saja

Politik Tukang Potong