Politik Tukang Potong


Politik Tukang Potong
          Baru baru ini kampus saya terjadi berbagai fenomena yang bisa dikatakan aneh tetapi unik. Fenomena ini dikatakan unik ketika sekolompok mahasiswa yang mengaku sebagai kaum intelektual tetapi anti terhadap ideologi, anti terhadap pemikiran, anti terhadap pertentangan, anti terhadap diskusi, anti terhadap dialektika, anti terhadap orang yang berbeda pandangan dengannya. Fenomena ini aneh karena dilakukan oleh mereka yang berposisi strategis dan menjabat sebagai petinggi organisasi eksekutif dikampus saya, dan menjegal mereka yang berbeda dengan berbagai streotype.
          Mereka itu dikucilkan, mereka itu direndahkan martabatnya, difitnah dengan berbagai tuduhan yang tidak benar, dan diserang bertubi tubi pendapatnya. Apabila mereka ini melawan dengan narasi yang lantang, playing victim seakan solusi bagi sekelompok mahasiswa yang unik dan aneh ini. Sarana diskusi bukan lah sebagai ajang tukar pikirian lagi, tetapi ajang untuk meraih kemenangan dan menjatuhkan lawan. Sarana politik demokrasi dikampus bukan lagi ajang tukar gagasan, tetapi ajang untuk menyerang pribadi.
          Hei.... bung. Bukankah setiap thesis pasti ada anti thesis, yang kemudian menghasilkan sintesis. Bukankah setiap kehidupan ada perbedaan pandangan. Bukankah kehidupan ini ada kodrat yang saling bertentangan. Seharusnya paradigma yang dibentuk sebagai kaum intelektual adalah narasi melawan narasi, argumentasi dilawan dengan argumentasi, kompetisi yang santun, hasil akhirnya bukanlah justru menambah lebar jurang perbedaan, tetapi kemufakatan yang adil dan beradab.
          Belajar dari Toyotomi Hideyoshi, seorang pemersatu jepang yang mengangkat penasihat kerajaannya dari orang-orang yang berbeda pandangan dengannya. Dengan keyakinan bahwa, setiap keputusan yang diambil matang dan dari beragam perspektif. Bukan justru orang yang berbeda kita habisi dan jegal dimanapun berada. Maka dengan saksama kita pahami bahwa, penjegalan politik yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa yang unik dan aneh ini, saya bisa katakan dengan metode “Politik Tukang Potong”

Pemerhati Kampus
Averus Sina

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maka Ikhlaskan Saja

Senja Dikala Itu